PRINGSEWU — Pendampingan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sering kali identik dengan laporan, angka, dan administrasi. Namun, bagi Yuli Rahmawati, pendamping desa di Kecamatan Pringsewu, tugas itu kerap membawanya pada cerita-cerita kecil yang justru menyimpan makna besar.
Hari itu, Yuli memenuhi undangan pendampingan penyusunan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) BUMDes di pekon Podomoro Kecamatan Pringsewu. Salah satu materi yang dipraktikkan adalah penggunaan aplikasi pelaporan yang dikembangkan oleh Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Kegiatan berjalan sebagaimana mestinya, hingga satu unit usaha tak tampak hadir.
Dari tiga unit BUMDes, Unit Ketapang belum terlihat. Saat ditanyakan, jawaban yang diterima sederhana: pengelolanya sedang panen bawang merah. Bagi warga desa, panen bukan sekadar pekerjaan, melainkan waktu penting yang tak bisa ditunda.
Usai pendampingan, Yuli memilih mendatangi lokasi panen. Di sana, ia bertemu dengan pengelola Unit Ketapang, Pak Yuli, bersama Ketua RT setempat. Lahan ketapang yang dikelola BUMDes merupakan lahan sewaan milik mereka, dan keduanya juga merupakan petani bawang merah. Peran ganda sebagai pengelola usaha desa dan petani menjadi potret keseharian yang jamak ditemui.
Percakapan ringan mengalir di tengah aktivitas panen. Namun suasana berubah ketika hujan rintik mulai turun. Tak lama, hujan semakin deras. Para petani menghentikan aktivitasnya dan berteduh di sebuah gubuk kecil di tepi lahan.
Di ruang sempit itu, lelah dan basah tak menghalangi tawa. Candaan sederhana mengisi waktu sambil menunggu hujan reda. Momen kebersamaan itu menjadi gambaran nyata tentang ketangguhan warga desa dalam menjalani hidup yang erat dengan alam.
Bagi Yuli, pendampingan di desa bukan semata soal administrasi dan pelaporan. Di balik setiap LPJ, ada kerja keras, ada cuaca yang tak menentu, dan ada manusia-manusia yang terus berjuang agar roda ekonomi desa tetap berputar meski harus berhenti sejenak, berteduh di bawah hujan.(*)